Rabu, 15 April 2015

ARAB PRA ISLAM, SEJARAH NABI MUHAMMAD PERIODE MAKKAH DAN MADINAH
Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
“Studi Materi SKI di Mts/MA”


Disusun oleh:
Sifa Ma’rifat
Anis Kurniyah
Dosen Pengampu :
Dr. Ahmad Choirul Rofiq, M.Fil.I

JURUSAN TARBIYAH
PROGRAM STUDIPENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI(STAIN)
PONOROGO
SEBTEMBER 2014
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Sebelum Islam lahir di Arab, penduduk Arab mengalami masa yang disebut dengan zaman Jahiliyah atau zaman kebodohan. Yang dimaksud dengan kebodohan pasa masa itu bukan karena keterbelakangan akal mereka, akan tetapi karena akhlak dan keyakinan mereka.
Nabi Muhammad Saw adalah revolusioner yang sangat berpengaruh pada dunia. Beliau utusan yang di utus oleh Allah Swt untuk memperbaiki akhlak ummat manusia. Dakwah beliau dimulai kerabat dekatnya, dan dilanjutkan di tanah kelahirannya, yaitu Arab.
 Karena beberapa faktor, beliau dan para sahabat memutuskan untuk hijrah ke Madinah. Berawal dari itulah, Islam mulai melebarkan sayap, dan berkembang pesat.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana keadaan Arab pra Islam?
2.      Bagaimana dakwah Nabi Muhammad Saw di Kota Makkah?
3.      Bagaimana dakwah Nabi Muhammad Saw di Kota Madinah?









PEMBAHASAN
A.    Arab Pra Islam
Kepercayaan Masyarakat Sebelum Islam
Pada awalnya, Masyarakat Mekkah adalah penganut agama Tauhid yang dibawa oleh Nabi Ibrahim as. Kemudian dilanjutkan oleh putranya Nabi Ismail as. Perjalanan hidup Nabi Ibrahim, istrinya Siti Hawa, dan putranya Nabi Ismail, melahirkan beberapa syari’at islam dan kebudayaan yang sampai sekarang terpelihara. Seperti ka’bah, maqam ibrahim, dan peristiwa qurban. Bahkan proses peristiwa perjalanan kehidupan keluarga ditiru dan disimulasikan oleh umat Islam dalam bentuk manasik haji. Manasik haji merupakan rangkai dari usaha ketiga makhluk Allah dalam mendekatkan diri kepada tuhannya yang maha Esa.
Ketika putus kerasulan Nabi Ismail as, masyarakat mekkah mulai pindah menyembah selain Allah. Proses perpindahan kepercayaan itu berawal dari Amir bin Lubay seorang pembesar suku Khuza’ah, pergi ke Syam (syiria). Dia melihat penduduk kota Syam melakukan ibadah dengan menyembah berhala. Dia tertarik untuk mempelajari dan mempraktekannya di Mekkah. Dia membawa berhala yang dinamai Hubal dan diletakkan di Ka’bah. Berhala Hubal menjadi pimpinan berhala yang lain seperti Latta, Uzza dan Manat.
Dia mengajarkan masyarakat Mekkah cara menyembah berhala. Sehingga masyarakat meyakini bahwa berhala adalah perantara untuk mendekatkan diri kapada tuhannya. Sejak itulah mereka mulai membuat berhala-berhala sehingga mencapai 36. Berhala mengelilingi Ka’bah. Dan mulailah kepercayaan baru masuk ke masyarakat Mekkah dan kota Mekkah menjadi pusat penyembahan berhala.
Ketika melaksanakan haji, Bangsa Arab melihat berhala-berhala disekitar Ka’bah. Mereka bertanya alasan menyembah berhala. Para pembesar menjawab bahwa berhala-berhala tersebut merupakan perantara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Setelah itu, mereka kembali kedaerahnya dan meniru cara beribadah Masyarakat Mekkah. Mulailah kepercayaan baru menyebar diseluruh Jazirah Arab.[1]
Mereka juga menyembah batu dan pepohonan. Mereka tidak mempercayai adanya hari kiamat dan kehidupan akhirat.[2]
Disamping kepercayaan terhadap penyambahan berhala, ada kepercayaan lain yang berkembang di Mekkah, yaitu:
a.       Menyembah malaikat
Sebagian masyarakat arab menyembah dan menuhankan malaikat. Bahkan sebagian beranggapan malaikat adalah putri Tuhan.
b.      Menyembah Ruh, Jin, atau Hantu
Sebagaian masyarakat Arab menyambah Jin, Hantu dan Ruh para leluhur mereka. Mereka mengadakan sesajian berupa qurban binatang sebagai bahan sajian agar mereka terhindar dari bahaya dan bencana.
Masa itu dikatakan masa jahiliyyah, bukan berarti mereka bodoh dari keilmuannya namun mereka bodoh dari keimanan kepada Allah seperti yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim as. Adapun faktor penyebab penyimpangan dari ajaran Nabi Ibrahim ialah:
1.      Adanya kebutuhan terhadap Tuhan yang selalu bersama mereka terutama saat mereka membutuhkan.
2.      Kecenderungan yang kuat mengagungkan leluhur yang telah berjasa terutanma kepala kabilah nenek moyang mereka.
3.      Rasa takut yang kuat menghadapi kekuatan alam yang menimbulkan bencana mendorong mereka mencari kekuatan lain diluar tuhan.

Kondisi Sosial Masyarakat Mekkah Sebelum Islam.
Bangsa arab memiliki karakter positif seperti pemberani, ketahanan fisik, kekuatan daya ingat, hormat akan harga diri dan martabat, penganut kebebasan, loyal terhadap pimpinan. Pola hidup sederhana, ramah, ahli syair dan sebagainya. Tapi karakter mereka terkikis oleh kejahiliyahan mereka.
Mereka melakukan kebiasaan-kebiasaan buruk seperti minum khamr sampai mabuk, berzina, berjudi, merampok dan sebagainya. Mereka menempatkan perempuan pada kedudukan yang sangat rendah. Perempuan dipandang ibarat binatang piaraan dan tidak memiliki kehormatan dan kekuatan untuk membela diri. Laki-laki memiliki kebebasan untuk menikah dan menceraikan semaunya.
Tradisi yang terburuk di masyarakat Arab adalah mengubur anak-anak perempuan mereka hidup-hidup. Mereka merasa terhina dan malu memiliki anak perempuan dan marah bila istrinya melahirkan anak perempuan. Mereka meyakini bahwa anak perempuan akan membawa kemiskinan dan kesengsaraan.
Selain itu, sistem perbudakan berlaku di masyarakat Arab. Para majikan memiliki kebebasan memperlakukan budaknya. Mereka punya kebebasan menyiksa budaknya, bahkan memperlakukan budaknya seperti binatang dan barang dagang yang bisa dijual atau dibunuh. Posisi budak tidak memiliki kebebasan hidup yang layak dan manusiawi.

Kondisi Ekonomi Masyarakat Mekkah Sebelum Islam.
Bangsa Arab memiliki mata pencaharian bidang perdagangan, pertanian, dan peternakan.
Peternakan menjadi sumber kehidupan bagi Arab Badui. Mereka berpindah-pindah menggiring ternaknya kedaerah yang sedang musim hujan atau ke padang rumput. Mereka mengonsumsi daging dan susu dari ternaknya. Serta membuat pakaian dan kemanya dari bulu domba. Jika telah terpenuhi kebutuhannya, mereka menjualnya kepada orang lain. Orang kaya dikalangan mereka terlihat dari banyaknya hewan yang dimiliki.
Selain Arab Badui, sebagian masyarakat perkotaan yang menjadikan peternakan sebagai sumber penghidupan. Ada yang menjadi pengembala ternak milik sendiri, ada juga yang mengembala milik orang lain.
Adapun masyarakat perkotaan yang tinggal di daerah subur, seperti Yaman, Thaif, Madinah, Najd, Khaibar atau yang lainnya, mereka menggantungkan sumber kehidupan pada pertanian. Selain pertanian, mayoritas mereka memilih berniaga sebagai mata pencaharian. Khususnya penduduk mekkah, mereka memiliki pusat perniagaan istimewa. Pendduk mekkah memiliki kedudukan tersendiri dalam pandangan orang-orang arab, yaitu mereka pendudk negri haram (mekkah). Orang-orang arab lain tidak akan menganggu mereka, juga tudak akan mengganggu perniagaan mereka.

            Kondisi Politik Masyarakat Arab sebelum Islam
Pada masyarakat Arab pra Islam dapat dibagi berdasarkan territorial kepada dua bagian, yaitu:
a.       Penduduk kota (al-Hadharah) yang tinggal di kota perniagaan Jazirah Arabia seperti Makkah dan Madinah.
b.      Penduduk pedalaman yang mengembara dari satu tempat ke tempat yang lain.
Sebelum kelahiran Islam, ada tiga kekuatan politik besar yang mempengaruhi politik Arab, yaitu kekaisaran Nasrani Byzantin, kekaisaran Persia yang memeluk agama Zoroaster, serta Dinasti Himyar yang berkuasa di Arab bagian selatan.kekaisaran Byzantium dan kekaisaran Romawi Timur dengan ibukota Konstantinopel merupakan bekas imperium Romawi dari masa klasik. Pada permulaan abad ke-7, wilayah ini telah meliputi Asia kecil, Syiria, Mesir dan sebagian daerah Itali serta sejumlah kecil wilayah di pesisir Afrika Utara juga berada di bawah kekuasaannya.
Sedangkan kekaisaran Persia berada di bawah kekuasaan dinasti Sasanid (sasaniyah). Ibu kota Persia adalah al-Madana’in, terletak sekitar dua puluh mil di sebelah tenggara kota Baghdad yang sekarang. Wilayah kekuasaannya terbentang dari Irak dan Mesopotamia hingga pedalaman timur Iran dewasa ini serta Afganistan.
Kondisi politik Jazirah Arab terpengaruhi oleh dua hal, yaitu pertama interaksi dunia Arab dengan kekaisaran Byzantium dan Persia, kedua persaingan antara Yahudi, Nasrani dan Zoroaster.[3]

B.     Dakwah Nabi Muhammad SAW di Kota Makkah
Hidup di tengah-tengah orang Arab yang gemar memuja berhala tidak membuat Nabi Muhammad Saw. ikut-ikutan memuja berhala bahkan beliau membenci berhala-berhala itu dan kepada agama yang dianut oleh sebagian besar bangsa Arab. Nabi Muhammad Saw. tidak pernah memuja berhala, Nabi Muhammad Saw. lebih sering mengasingkan diri untuk berfikir tentang penciptaan alam semesta beserta segenap isinya. Gua Hira’ yang berada di bukit Nur (Jabal Nur) adalah tempat di mana beliau berkhalwat dengan khusyu hingga menerima wahyu Allah Swt.
Memasuki 14 tahun usia pernikahan Nabi Muhammad Saw. dengan Siti Khadijah, Nabi Muhammad Saw. sering melakukan ibadah diiringi dengan memohon petunjuk kepada Allah Swt., berkhalwat di Gua Hira, yaitu ua yang berada di bukit Nur (Jabal Nur) yang terletak di dekat Mekkah. Berkhalwat ini dilakukan Nabi Muhammad Saw. dengan khusyuk, kadang sampai beberapa hari beliau baru pulang jika bekal sudah habis. Di sanalah, beliau menghabiskan waktu selama berhari-hari dan bermalam-malam.[4]
Pada usia 40 tahun, Nabi Muhammad saw sering bertahanus di Gua Hira. Gua itu terletak 6 km di sebelah timur Kota Makkah. Di tempat itu, Nabi Muhammad saw merenungi keadaan masyarakatnya. Pasa tanggal 17 Ramadhan 611 M, Malaikat Jibril menyampaikan wahyu pertama, yaitu Surah al’Alaq Ayat 1-5.
Turunnya wahyu pertama itu menandakan bahwa Nabi Muhammad saw telah diangkat menjadi utusan Alloh swt.
Sesudah malaikat Jibril datang pertama kali kepada Nabi Muhammad menyampaikan wahyu, dia tidak datang-datang lagi hingga beberapa waktu. Nabi Muhammad menanti-nanti kedatangannya lagi. Akhirnya beliau sering datang ke Gua Hira seperti biasanya sebelum menerima wahyu. Hari tidak turunya wahyu tersebut disebut Fatratul Wahyi (masa berselangnya wahyu).
Pada suatu hari, ketika belia berada di Gua Hira, terdengarlah suara dari langit. Lalu, beliau melihat ke atas maka dilihatlah Malaikat Jibril. Melihat pemandangan itu tubuh beliau bergetar. Lalu, beliau segera pulang ke rumah. Beliau langsung tidur dan berkata kepada keluarganya, “Selimutilah saya! Selimutilah saya!”
Dalam keadaan beliau sedang tidur, datanglah Malaikat Jibril menyampaikan wahyu firman Alloh swt kepada beliau, yaitu Surah al-Muddassir Ayat 1-7.
Setelah menerima wahyu, Nabi Muhammad saw melakukan dakwah.
Pada mulanya, dakwah Nabi Muhammad saw dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Sasaran dakwahnya terbatas pada orang-orang dekat sekitar beliau. Dakwah secara sembunyi-sembunyi dilakukan oleh Nabi Muhammad saw dengan maksud mencari orang-orang yang mendukung belliau. Merekalah yang disiapkan untuk menjadi juru dakwah beliau. Mereklah yang akhirnya menjadi pendukung setia dakwah Nabi Muhammad saw.
Selanjutnya, siasat dakwah sembunyi-sembunyi mulai ditinggalkan Nabi Muhammad saw setelah beliau menerima wahyu Surah al-Hijr Ayat 94.
Ayat-ayat tersebut menekankan bahwa dakwah Nabi Muhammad saw bertujuan untuk menghindarkan manusia dari kemusyrikan dan mengajak kepada ketauhidan.
Langkah pertama Nabi Muhammad saw berdakwah secara terbuka adalah mengumpulkan warga Kota Makkah di Bukit Safa. Warga Kota Makkah dengan senang hati memenuhi undangan tersebut. Saat itu, Nabi Muhammad saw adalah orang yang sangat dipercaya dan dihormati. Mereka yang didundang Nabi Muhammad memenuhi undangan tersebut, termasuk Abu Lahab.
Setelah semua berkumpul di kaki Bukit Safa terjadilah dialog antara Nabi Muhammad saw dengan warga Kota Makkah. Nabi Muhammad saw bertanya, “Bagaimana menurut pendapat kalian jika aku memberitakan bahwa ada seekor kuda yang dapat keluar dari dalam gunung ini lalu menyerang kalian? Apakah kalian percaya?”
Semua yang hadir menjawab, “Ya, kami percaya, kami tidak pernah mengetahui engkau berdusta.” Kemudian Nabi Muhammad saw berkata lagi, “Ketahuilah, sesungguhnya aku diutus(diutus Alloh) sebagai pemberi peringatan kepada kalian akan adanya siksa Alloh yang sangat keras.” Belum selesai perkataan Nabi Muhammad saw, Abu Lahab berteriak marah memotong ucapan Nabi Muhammad saw, “Celaka kamu Muhammad! Apakah hanya untuk ini kamu kumpulkan kami semua?” Bersamaan itu, Abu Lahab melempari Nabi Muhammad saw dengan batu. Akhirnya pertemuan itu berakhir dengan kacau.
Dakwah Nabi Muhammad saw ditolak dan didustakan oleh paman beliau sendiri yang bernama Abu Lahab dan istrinya. Berhubung dengan sikap Abu Lahab tersebut, Alloh swt mencela denan firman-Nya Surah al-Lahab Ayat 1-5.
Seruan terbuka tersebut membuat Islam mulai dikenal masyarakat luas dan menjadi pusat perbincangan. Warga Kota Makkah, terutama suku bangsa Quraisy, banyak yang menentangnya. Dengan segala cara, para penentang tersebut berusaha menghentikan dakwah Nabi Muhammad saw. Keberanian kaum muslimin untuk melakukan dakwah secara terbuka makin menguat setelah Umar bin Khattab masuk Islam. Sebelumnya, Umar bin Khattab adalah seorang penentang utama dakwah Islam.
Menghadapi ancaman tersebut, Nabi Muhammad saw beserta pengikut setianya tidak mundur. Sedikit demi sedikit dakwah Islam tetap berjalan. Pada masa-masa awal tersebut, orang-orang yang dapat menerima dakwah Nabi Muhammad saw adalah dari golongan tertindas dan kaum miskin.

Bentuk Hambatan Dakwah
Bentuk awal dakwahnya, Nabi Muhammad saw mendapat banyak tantangan dan hambatan. Ketika paman beliau yang bernama Abu Thalib masih hidup, Nabi Muhammad saw mendapat perlindungan. Pada masa itu,  di Jazirah Arab berlaku kebiasaan melindungi salah satu keturunannya, walaupun dia berbuat salah.
Beberapa hambatan Nabi Muhammad di antaranya:
a.       Banyak tokoh kafir Quraisy yang membujuk Abu Thalib agar melepas perlindungannya terhadap Nabi Muhammad saw. Di antara tokoh-tokoh tersebut adalah Abu Jahal, Abu Lahab, Abu Sufyan, dan Utbah bin Rabi’ah. Mereka sangat bersemangat dalam menghambat dakwah Nabi Muhammad saw.
b.      Adanya desakan untuk menghentikan dakwah yang bertubi-tubisempat membuat Abu Tholib goyah. Akhirnya dia juga berusaha membujuk Nabi Muhammad saw untuk menghentikan dakwahnya. Akan tetapi, permohonan pamannya tersebut ditolak.
c.       Para pengikiut Nabi Muhammad saw juga banyak mengalami siksaan karena keimanannya.
d.      Kaum kafir Quraisy melakukan pemboikotan selama 3 tahun, antara lain: tidak mau berbicara dengan orang Islam, tidak mau berjual beli dengan orang Islam, tidak mau menikah dengan orang Islam.
Pemboikotan tersebut berhenti setelah papan pengumuman pemboikotan yang dipasang di Ka’bah hancur dimakan rayap. Selain itu, beberapa orang dilakalangan kaum Quraisy tidak tega melihat akibat pemboikotan tersebut.

Tekanan dan Ancaman Kaum Quraisy
Sebab-sebab kaum Quraisy menentang seruan Islam, antara lain:
a.       Persaingan kekuasaan
Kaum Quraisy menentang Islam karena yang membawa seruan itu adalah Nabi Muhammad saw yang berasal dari Bangsa Abdul Muthalib. Kalau mereka memeluk Islam, berarti tunduk kepada kekuasaan Abdul Muthalib. Hal inilah yang tidak dikehendaki oleh kaum Quraisy yang ingin masing-masing keluarganya berkuasa. Mereka tidak bisa membedakan kenabian dan kerajaan.
b.      Persamaan hak antara bangsawan dan hamba sahaya
Orang-orang dari kalangan bangsawan enggan menganut agama Islam. Mereka menganggap bahwa agama Islam akan meruntuhkan tradisi yang telah mereka anut selama ini. Mereka akan kehilangan hak-hak istimewa dalam masyarakat. Mereka tidak mau disamakan dengan orang miskin dan hamba sahaya.
c.       Takut akan dibangkitkan
Agama Islam mengajarkan bahwa pada hari kiamat seluruh manusia akan dibangkitkan dari kuburnya dan semua perbuatan mereka akan dihisab (dihitung). Perbuatan baik akan dibalas dengan kebaikan dan perbuatan buruk akan diberi balasan yang buruk pula. Dalam hal ini orang-orang Quraisy tidak dapat menerima ajaran seperti itu. Mereka tidak mau dibangkitkan lagi setelah mati, untuk diperiksa segala amal mereka. Oleh karena itu, mereka menentang ajaran Islam. 
d.      Taklid kepada orang tua
Bangsa Arab sangat taklid (mengikuti secara membabi buta) kepada adat istiadat dan kebiasaan nenek moyang mereka. Demikian pula dalam hal keyakinan dan peribadatan. Seolah-olah mereka akan mendapatkan kecelakaan kalau berani melanggar ketentuan orang tua mereka, walaupun sebenarnya ketentuan dan kebiasaan tersebut belum tentu benar. Oleh karena itu, kaum Quraisy pada mulanya sulit untuk memeluk agama Islam karena memeluk agama Islam berarti meninggalkan agama nenek moyang mereka.[5] 

C.     Dakwah Nabi Muhammad saw di Kota Madinah

Rasululloh saw merasa prihatin dengan penderitaan kaum muslimin Makkah. Oleh karena itu, beliau menyuruh para sahabat untuk hijrah ke Madinah (Yasrib) karena orang-orang Madinah telah menanti kedatangan mereka. Berangkatlah para sahabat hijrah ke Madinah diawali oleh Abu Salamah dan istrinya, lalu menyusul sahabat-sahabat yang lain. Mereka hijrah dengan sembunyi-sembunyi. Berbeda dengan Umar bin Khattab, beliau hijrah dengan terang-terangan, tetapi tidak satu pun orang kafir Quraisy yang berani menghalanginya.
Abu Bakar memohon kepada Rosululloh saw agar beliau juga berkenan hijrah, tetapi beliau menunggu wahyu hingga Alloh swt memperkenankannya. Sebagian besar para sahabat secara berangsur-angsur hijrah ke Madinah hingga hanya beberapa sahabat yang tinggal di Makkah seperti Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Harisah dan beberapa sahabat yang lain.
Kedatangan kaum muslimin dari Makkah disambut oleh penduduk Madinah dengan tangan terbuka. Sambutan ini tidak hanya diberikan oleh kaum muslimin, tetapi penduduk Madinah yang belum masuk Islam pun ikut menyambut dengan perasaan gembira, dengan menunjukkan rasa persaudaraan dan kesetiakawanan yang mendalam. Segala keperluan kaum muslimin Makkah dipenuhi oleh tuan rumah. Mereka disediakan tempat tinggal di rumah-rumah muslimin Madinah. Ada yang membantu memberikan makanan dan ada pula yang membantu memberikan pakaian. Keselamatan jiwa mereka dari gangguan dan ancaman, baik dari kafir Quraisy maupun dari suku Arab lainnya dijaga dengan sebaik-baiknya sehingga mereka merasa aman dan tentram. Sahabat-sahabat Nabi saw yang pindah dari Makkah ke Madinah disebut Muhajirin, artinya orang-orang yang berhijrah atau berpindah. Kaum muslimin Madinah disebut dengan ansor, artinya orang-orang yang menolong.
Setelah orang-orang kafir Quraisy mengetahui bahwa para sahabat Nabi saw hijrah dan mendapat sambutan yang baik dari penduduk Madinah, mereka makin membenci Rasululloh saw. Para pemuka kafir Quraisy berkumpul untuk memusyawarahkan tindakan apa yang harus dilakukan terhadap Rasululloh saw. Akhirnya, mereka memutuskan untuk membunuh Rasululloh saw.
Supaya keluarga Rasululloh saw tidak menuntut balas atas pembunuhan yang akan berlangsung, pembunuhan harus terdiri atas banyak orang. Oleh karena itu, setiap suku atau kabilah harus mengirimkan pemudanya sehingga keluarga Rasululloh saw tidak dapat menuduh salah satu suku. Pada malam yang ditentukan, duabelas orang pemuda mengepung rumah Nabi Muhammad saw.
Ketika bersamaan dengan musyawarah kafir Quraisy yang memutuskan akan membunuh Rasululloh saw, Rasululloh saw telah memberitahu Abu Bakar supaya bersiap hijrah atas dasar turunnya perintah dari Alloh swt. Sebelum Rasululloh saw berangkat, beliau menyuruh Ali bin Abi Thalib tidur di tempat tidur beliau dengan memakai selimut beliau dan merahasiakan kepergian beliau.
Waktu Rasululloh saw hendak keluar rumah, beliau berdo’a dan ketika beliau membuka pintu dilihatnya para pemuda dengan pedang terhunus sedang tidur nyenyak. Rasululloh saw berangkat menuju rumah Abu Bakar, kemudian menuju Gua Sur. Keesokan harinya, para pemuda itu bangun dan mereka langsung masuk ke dalam rumah Rasululloh saw. Mereka mendobrak pintu kamar, dan ternyata yang terbaring adalah Ali bin Abi Thalib. Mereka memaksa Ali untuk menjelaskan keberadaan Nabi saw dengan ancaman akan menyiksanya, akan tetapi Ali tetap tidak mau menjelaskan.
Setelah tidak mendapatkan jawaban dari Ali, mereka menelusuri jejak Nabi saw hingga sampai di mulut Gua Sur. Rombongan pemuda Quraisy melihat sepasang burung merpati yang sedang bertelur dan sarang laba-laba yang telah menutupi gua. Para pemuda berfikir, bahwa mustahil di dalam gua ada orang. Rasululloh saw bersama Abu Bakar berada di dalam Gua Sur selama 3 malam.[6]
Di tengah perjalanan menuju Madinah, Rasulullah saw. singgah di Quba’, sebuah desa yang terletak dua mil di selatan Madinah. Di sana beliau membangun sebuah masjid. Masjid ini menjadi masjid pertama dalam sejarah Islam. Beliau singgah di sana selama empat hari untuk selanjutnya meneruskan perjalanan ke Madinah.[7]
Nabi Muhammad saw. dan Abu Bakar tiba di Madinah pada tanggal 12 Rabiul Awal. Kedatangan beliau telah dinanti-nanti masyarakat Madinah.
 Pada hari kedatangan Nabi Muhammad saw. dan Abu Bakar, masyarakat Madinah sudah menunggu di jalan yang akan dilalui Nabi Muhammad saw., lengkap dengan regu genderang. Mereka mengelu-elukan Nabi Muhammad saw. dan genderang pun gemuruh diselingi nyanyian yang sengaja digubah untuk keperluan penyambutan itu. “Bulan purnama telah muncul di tengah-tengah kita, dari celah-celah bebukitan. Wajiblah kita bersyukur atas ajakannya kepada Allah Swt. Wahai orang yang dibangkitkan untuk kami, kau datang membawa sesuatu yang wajib ditaati.” Itulah syair penyambutan Nabi Muhammad saw. di Madinah.
Sesampainya di Madinah, langkah pertama yang dilakukan Nabi Muhammad saw adalah membangun Masjid. Masjid yang pertama kali dibangun Nabi Muhammad saw di Madinah adalah Masjid Nabawi.
Berdirinya Masjid Nabawi merupakan tonggak berdirinya masyarakat Islam. Umat Islam tidak merasa takut lagi untuk melaksnakan sholat dan kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya. Selanjutnya, dimulailah pembangunan jalan-jalan raya di sekitar masjid. Lama-kelamaan, tempat itu menjadi pusat kota dan pemukiman.
Pesatnya pembangunan di Kota Madinah menyebabkan adanya migrasi dari tempat lain. Masyarakat yang ada di sekitar Kota Madinah berdatangan dengan tujuan berdagang atau tujuan yang lain. Keadaan yang demikian menyebabkan Madinah menjadi kota terbesar di Jazirah Arab.
Pada masa itu, masyarakat muslim berkembang menjadi masyarakat yang besar dan berkuasa. Hal itu menimbulkan kecemburuan pasa kelompok masyarakat Yahudi dan Nasrani. Mereka mulai memperlihatkan rasa tidak suka. Agar permasalahan-permasalah yang muncul tidak semakin runyam, Nabi Muhammad saw membuat peraturan untuk menata masyarakat. Khusus masyarakat Islam, Nabi Muhammad mempersaudarakan kaum Muhajirin dan kaum Anshar.
Di Madinah sebelum kedatangan agama Islam, antara suku Aus dan Khazraj selalu terjadi perselisihan bahkan tidak jarang terjadi pertumpahan darah hal ini dipicu oleh adanya pihak ketiga, yakni Yahudi. Kedatangan Rasulullah Saw. memberikan dampak yang sangat positif pada kedua suku tersebut. Kedua suku tersebut banyak yang memeluk Agama Islam, sehingga semuanya telah terikat dalam satu ikatan keimanan. Walaupun tidak bisa menghilangkan sama sekali sisi fanatisme kesukuan namun telah tertanam dalam jiwa mereka bahwa semua manusia dalam pandangan Islam adalah sama. Yang membedakan derajat manusia di sisi Allah hanyalah ketakwaannya. Dengan memeluk Islam ini. Nabi Saw. telah memberikan penerangan kepada masyarakat Madinah bahwa Islam adalah agama yang menentang diskriminasi, dan cinta pada perdamaian.
Adapun kalangan masyarakat bukan Islam diikat dengan peraturan yang dibuat oleh Nabi Muhammad saw yang tertuang dalam Piagam Madinah. Adapun diantara isi Piagam Madinah adalah:
a)      Masyarakat muslim dan Yahudi akan hidup berdampingan dan bebas menjalankan agamanya masing-masing
b)      Apabila salah satunya diperangi musuh, yang lain wajib membantu
c)      Apabila terjadi perselisihan antara keduanya, penyelesaiannya diserahkan kepada Nabi Muhammad saw selaku pemimpin tertinggi di Madinah
Dalam perjalanan dakwahnya, Nabi Muhammad saw banyak menemui rintangan. Rintangan itu muncul sebagai akibat adanya sebagian masyarakat Madinah yang tidak dapat menerima kepemimpinan Nabi Muhammad saw. Secara sembunyi-sembunyi mereka melepas diri dari kepemimpinan Nabi Muhammad saw. Mereka menjalin hubungan rahasia dengan kaum kafir Quraisy di Makkah. Mereka selalu melaporkan perkembangan umat Islam di Madinah dengan maksud menekan kekuasaan Nabi Muhammad saw. Hal ini merupakan awal terjadinya peperangan dengan kaum kafir Quraisy. Peperangan yang kemudian terjadi adalah Perang Badar, Perang Uhud, dan Perang Khandaq.   
Setelah 6 tahun menetap di Kota Madinah, timbul keinginan kaum Muhajirin untuk menunaikan ibadah haji sekaligus mengunjungi tanah kelahiran mereka. Nabi Muhammad saw menyadari hal itu sehingga beliau memutuskan untuk mengunjungi Makkah.
Ketika rombongan umat Islam sampai di suatu tempat yang bernama Hudaibiyah yang berjarak sekitar 6 mil dari Kota Makkah, mereka berhenti. Nabi mengutus Usman bin Affan untuk mengabarkan kepada kaum kafir Quraisy tentang maksud dan tujuan mereka. Para pemuka kafir Quraisy bersikeras tidak mengizinkan rombongan umat Islam memasuki Makkah.
Akhirnya mereka berhasil membuat kesepakatan yang dikenal dengan Perjanjian Hudaibiyah. Di antara isi perjanjian tersebut adalah:
a)      Kedua belah pihak mengadakan genjatan senjata selama 10 tahun
b)      Setiap orang diberi kebebasan untuk memilih menjadi pengikut Nabi Muhammad saw atau kaum kafir Quraisy
c)      Kaum muslim wajib mengembalikan orang Makkah yang menjadi pengikut Nabi Muhammad saw di Madinah tanpa alas an yang benar kepada walinya, sedangkan kaum kafir Quraisy tidak wajib mengembalikan orang Madinah yang menjadi pengikut mereka.
d)     Kunjungan rombongan umat Islam untuk menunaikan ibadah haji ditangguhkan pada tahun berikutnya. Lama kunjungan paling lama adalah 3 hari dan tidak diperbolehkan membawa senjata.
Setelah perjanjian Hudaibiyah, situasi menjadi aman dan tidak ada peperangan. Pengikut Nabi saw yang semula hanya berjumlah sekitar 1.400 orang bertambah hingga hampir 10.000 orang. Hal ini disebabkan orang-orang Quraisy banyak yang bersimpati kepada Nabi Muhammad saw.[8]
























PENUTUP

Kesimpulan
1.      Keadaan Arab pra Islam sangat memprihatinkan. Mereka menyembah berhala, batu dan pepohonan. Pada zaman itu disebut dengan zaman Jahiliyah atau zaman kebodohan. Hal ini dikarenakan akhlak dan keyakinan mereka, bukan karena keterbelakangan pengetahuan mereka.
2.      Dalam keadaan seperti itulah Nabi Saw diutus untuk berdakwah. Awalnya Nabi Saw berdakwah secara sembunyi-sembunyi, hal ini bertujuan untuk mencari pendukung terlebih dahulu. Setelah turun perintah, Nabi Saw pun berdakwah secara terang-terangan. Namun ternyata hal ini menuai banyak ancaman dari kaum kafir Quraisy, termasuk pamannya sendiri. Karena hal itulah Nabi Saw memutuskan untuk hijrah ke Kota Madinah.
3.      Hijrah Nabi Saw ke Madinah ternyata disambut baik oleh penduduk setempat. Bahkan, dengan suka rela mereka menolong dan memenuhi kebutuhan orang-orang muslim yang datang dari Makkah. Disanalah Nabi Saw menyampaikan syari’at dan mulai membangun Kota Madinah yang akhirnya menjadi pusat perdaganan di Arab.








DAFTAR PUSTAKA

Darsono dan T. Ibrahim. Tonggak Sejarah Kebudayaan Islam 1. Solo: PT Tiga Serangkai, 2003.
http://shekakau.blogspot.com/2013/10/bahan-ajar-kelas-vii.html. diakses pada tanggal 17   September 2014: 08:15

Kementerian Agama Republik Indonesia 2014.  Buku Siswa Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta: Kementerian Agama, 2014.



[1] http://shekakau.blogspot.com/2013/10/bahan-ajar-kelas-vii.html. diakses pada tanggal 17 September 2014: 08:15
[2] Darsono dan T. Ibrahim, Tonggak Sejarah Kebudayaan Islam 1(Solo: PT Tiga Serangkai, 2003), 19.
[4] Kementerian Agama Republik Indonesia 2014, Buku Siswa Sejarah Kebudayaan Islam(Jakarta: Kementerian Agama, 2014), 15
[5] Darsono dan T. Ibrahim, Tonggak Sejarah Kebudayaan Islam, 19-25
[6] Ibid., 36-38
[7] Kementerian Agama Republik Indonesia 2014, Buku Siswa Sejarah Kebudayaan Islam, 42
[8] Darsono dan T. Ibrahim, Tonggak Sejarah Kebudayaan Islam, 40-45